Sponsors Link

Perbedaan Hemokromatosis Dan Hemosiderosis yang Paling Mencolok

Sponsors Link

Bagi sebagian orang sering mendengar tentang hemokromatosis dan hemosiderosis. Apakah mereka sama? Tentu saja tidak. Walau terdengar sama, namun sebenarnya penyakit ini memiliki perbedaan pada beberapa aspek. Dan hal ini perlu Anda ketahui tentang perbedaan hemokromatosis dan hemosiderosis agar Anda tidak mengambil langkah yang salah dalam cara mencegah penularan penyakit hepatitis, cara mengatasi hemokromatosis bahkan mengobati penyakit ini. Berikut penjelasannya.

ads

Perbedaan Hemokromatosis dan Hemosiderosis

Perbedaan hemokromatosis dan hemosiderosis tentunya dapat dilihat pada beberapa aspek. Hemokromatosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kelainan genetik dimana tubuh menyerap lebih banyak zat besi dari makanan yang dikonsumsi.

Sedangkan hemosiderosis merupakan deposito zat besi dalam jaringan lokal yang tidak menyebabkan kerusakan. Berikut ini lebih jelasnya tentang perbedaan dari kedua penyakit ini.

Hemokromatosis

Hemokromatosis merupakan kelinan genetik saat tubuh menyerap banyak zat besi yang masuk ke dalam tubuh Anda atau yang juga disebut hemokromatosis herediter ( penyakit bawaan dari keluarga ). Untuk penyakit jenis ini lebih sering ditemukan pada pria.

Namun, tidak menutup kemungkinan untuk terjadi pada wanita, hanya saja gejala hemokromatosis baru dapat terasa saat wanita mengalami menopause atau tidak dalam masa kehamilan.

Selain itu, dilihat dari penyebabnya – hemokromatosis juga terbagi atas dua yaitu hemokromatosis primer dan hemokromatosis sekunder. Seperti apa itu? berikut penjelasannya.

  • Hemokromasotis Primer

Hemokromatosis primer ini merupakan mutasi gen HFE yang bekerja untuk mengatur jumlah penyerapan zat besi oleh tubuh. Penyakit ini murni karena keturunan yang berasal dari ayah dan atau ibu.

Hemokromatosis primer ini pun dibagi atas dua yaitu Hemokromatosis Juvenile atau kondisi yang disebabkan oleh mutasi gen hemojuvelin, kondisi ini dapat dilihat dari gejala yang muncul pada usia 15 sampai 30 tahun. Selain itu, terdapat hemokromatosis neonatal – dimana zat besi tertimbun dalam kadar yang banyak sehingga dapat menyebabkan kerusakan hati pada bayi yang baru lahir.

  • Hemokromatosis Sekunder

Hemokromatosis sekunder ini merupakan kondisi dimana penyerapan zat besi disebabkan karena beberapa kondisi, seperti anemia sideroblastik atau thalassemia, sering melakukan transfusi darah, melakukan dialisis atau cuci darah pada hati, mengalami penyakit hati kronis, terlalu banyak mengonsumsi alkohol dan merokok.

Resiko ini akan dua kali lebih tinggi apabila Anda memiliki riwayata diabetes dan jantung pada keluarga Anda. Juga, jika Anda terlalu sering mengonsumsi vitamin C dalam bentuk apa saja dapat mengalami hemokromatosis tipe ini. 

Sponsors Link

Hemokromatosis dapat dilihat dari dilihat dari gejala-gejala yang Anda alami seperti, terasa nyeri pada bagian perut bengkak karena liver, mudah lelah, detak jantung yang tidak teratur, kehilangan rambut, kehilangan berat badan hingga napas tensengal. Terlebih lagi, hemokromatosis ini dapat menyebabkan komplikasi abses hati jika tidak ditangani dengan benar. Seperti ciri-ciri penyakit atresia bilier dibawah ini.

  1. mengalami benarkah sirosis hati dapat menular barikut jawaban dan cara mencegahnya,
  2. kerusakan pada pankreas,
  3. perubahan warna kulit,
  4. alzheimer atau menurunnya daya ingat,
  5. depresi,
  6. mengalami masalah pada sistem reproduksi,
  7. Penyakit Jantung atau kardiomiopati.
  8. arthritis,
  9. Rasa nyeri pada persendian,
  10. bahkan dapat menyebabkan kematian.

Hemokromatis ini sangat berbeda dengan hemosiderosis yang hanya merusak paru-paru. Hemokromatosis dapat merusak hampir semua organ-organ tubuh melalui darah yang telah terkontaminasi zat besi berlebih.

Namun, hemokromatosis dapat dicegah dan diobati dengan melakukan pembersihan darah secara rutin, kecuali bagi Anda penderita anemia. Jika Anda memiliki riwayat anemia, Anda dapat melakukan terapi.

Hemosiderosis

Hemosiderosis ini merupakan deposito zat besi dalam jaringan lokal yang tidak menyebabkan kerusakan pada jaringan. Hemosiderosis atau hemosiderin merupakan protein darah yang terbentuk ketika sel darah merah mengalami kerusakan.

Sponsors Link

Hemosiderosis ini juga terdapat berbagai jenis, salah satunya ialah hemosiderosis pulmoner idiopatik. Hemosiderosis pulmoner idiopatik ini merupakan penyakit dimana terdapat zat besi di paru-paru, ini dapat dilihat ketika darah dari kapiler masuk ke paru-paru. Penyakit ini ditandai dengan batuk darah atau hemoptisis.

Selain itu, penyebab penyakit radang hati ini sebagian besar dapat terjadi pada anak-anak maupun remaja. Namun hemosiderosis pulmoner idiopatik ini belum banyak ditemukan. Saat Anda mengalami ini, Anda akan merasakan beberapa gejala fungsi hati terganggu di bagian tubuh seperti dibawah ini.

  • Nyeri pada dada
  • Batuk berdahak bercampur darah
  • Napas tersengal atau putus-putus
  • Tersedak di paru-paru

Untuk mengobati penyakit jenis ini, Anda dapat menggunakan Corticosteroid dan obat sitotoksik seperti azathioprine untuk mengurangi peradangan. Atau Anda bisa saja disarankan oleh dokter untuk melakukan transfusi saat Anda kehilangan banyak darah. Selain itu, Anda akan diberikan terapi oksigen ketika ditemukan kadar oksigen yang rendah pada darah Anda.

Dengan begini walaupun hemokromatosis dan hemosiderosis disebabkan karena zat besi, namun keduanya terjadi pada organ tubuh yang berbeda pun menimbulkan gejala yang berbeda pula. Untuk itu segeralah periksakan ke dokter apabila Anda mengalami gejala-gejala diatas.

Itulah perbedaan hemokromatosis dan hemosiderosis yang perlu Anda ketahui, mulai dari gejala hingga metode pengobatan. Ini juga dimaksudkan agar Anda tidak salah dalam mendapatkan pengobatan yang nantinya dapat menimbulkan efek samping hingga komplikasi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Tetap perhatikan kesehatan Anda dan semoga artikel ini bermanfaat.

, , ,