Sponsors Link

9 Ciri-ciri Penyumbatan Empedu pada Bayi Para Ibu Wajib Tahu

Sponsors Link

Penyumbatan empedu adalah suatu kondisi di mana Fungsi empedu tidak dapat berjalan dengan lancar karena adanya sumbatan di saluran empedu oleh senyawa tertentu Senyawa senyawa yang biasa ditemukan dalam kasus penyumbatan empedu biasanya berupa timbunan trombus empedu pada bayi.

ads

Penyumbatan empedu dimulai dari bagian membrana basolateral dari hepatosit sampai kepada duodenum atau usus 12 jari. Penyumbatan empedu yang terjadi pada bayi di bawah usia tiga minggu disebut dengan kolestatis bayi. Kolestatis atau penyumbatan empedu pada bayi ini memiliki prevalensi sekitar 25000 kelahiran.

Kolestastis pada bayi sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu kolestatis ekstrahepatik atau berasal dari sel empedu luar atau intrahepatik alias adanya ganggguan pada fungsi hati pada alat ekskresi. Penyumbatan empedu atau kolestatis pada bayi sulit untuk dideteksi karena memiliki kesamaan dengan penyakit kuning ringan pada bayi yang dapat hilang sendiri pada umur 2 minggu.

Proses diagnosis kolestasis pada bayi sendiri meliputi pengecekan kadar bilirubin, apabila kadar bilirubin berantai mencapai 1 mg/dl di dalam total bilirubin yang mencapai lebih dari 5 mg/dl maka dokter dapat memastikan bahwa sang bayi terkena penyumbatan empedu.

Selain itu dokter juga memerlukan legitimasi dari hasil tes darah, Ultrasonography dengan puasa 24 jam sebelumnya, Biopsi, dan Skintiagrafi radiologi.  Namun untuk mempercepat penanganan dan membantu menegakkan diagnoasa dokter, berikut adalah ciri-ciri penyumbatan empedu pada bayi :

  1. Terkena Hyperbilirubinemia

Hyperbilirubinemia adalah kondisi dimana level bilirubin pada bayi telah melewati ambang batas dari yang dianjurkan. Sebagai patokan apabila jumlah bilirubin pada bayi telah melewati 340 µmol/l. Bilirubin dalam jumlah berlebihan dapat menjadi pemicu munculnya ciri-ciri penyumbatan empedu pada bayi yang lainnya.

2. Urin berwarna gelap

Umumnya Gangguan pada saluran empedu termasuk penyumbatan atau kolestatis dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan bilirubin. Sisa sisa bilirubin ini akhirnya mengalir ke darah dan tidak diekskresi oleh hati.

Akibatnya bilirubin yang berada di dalam darah yang disaring oleh ginjal dan dapat mempengaruhi warna urin. Lazimnya warna urin yang mengandung sisa-sisa bilirubin ini akan berwarna gelap. hal ini juga dapat ditemukan di ciri-ciri penyakit atresia bilier

.     3. Penyakit Kuning

Penyakit kuning menjadi penyakit yang paling lazim bagi penderita penyakit hepatik dan saluran empedu. Identik dengan ciri-ciri penyakit atresia bilier. Penyakit kuning ini akan paling tampak pada kulit dan area mata karena banyaknya jumlah bilirubin yang terdapat dalam darah. Penyakit kuning ini sebenarnya banyak muncul pada bayi hingga umur 2 minggu.

Namun apabila penyakit kuning masih bertahan setelah dua minggu kemungkinan besar bayi mengalami gangguan hati seperti penyumbatan empedu ataupun gangguan lainnya. Selain itu bahaya penyakit pada bayi baru lahir juga wajib mendapat perhatian serius.

Sponsors Link

4.  Adanya pembengkakan pada hati atau hepatomegaly

Pembengkakan pada hati merupuakan gangguan medis pada hati dan merupakan turunan dari sindrom utama yang menyerang hati seperti tumor dan infeksi atau faktor vaskular seperti gangguan pada kardio. Pada kasus penyumbatan empedu, saluran empedu yang tidak berfungsi dengan baik dapat mendorong infeksi yang akan membebani kinerja hati, akibatnya hati akan menyimpan zat zat sisa secara berlebihan karena adanya obstruksi dari infeksi tersebut. Kondisi ini akan menyebabkan hati mengalami pembengkakan. Penanganan wajib dilakukan mengingat bahaya pembengkakan hati terutama pada bayi bisa berdampak serius.

5.  Sering Mengalami Pendarahan

Bayi yang terkena penyumbatan empedu atau kolestasi akan sering mengalami pendarahan. Pendarahan ini sendiri disebabkan oleh koagulopathy karena banyaknya menurunya jumlah trombin dalam darah. Biasanya pendarahan akan muncul dari organ-organ seperti hidung, gusi atau bahkan pada persendian yang ditunjukkan dengan munculnya memar secara mendadak.  Pendarahan terus menerus akan mengakibatkan bayi mengalami tahap anemia atau sepsis yang dapat bersifat fatal. Defisiensi vitamin K merupakan penyebab utama dari koagulopathy pada bayi.

6. Tinja berwarna pucat

Adanya disfungsi pada empedu mengakibatkan bilirubin tidak dapat tereksresi dengan benar. Bilirubin merupakan salah satu senyawa pembentuk warna pada feses. Absenya bilirubin pada proses di rektum akan mengakibatkan feses atau tinja kehilangan pigmen pembentuk warna.

7 . Menunjukkan Tanda-Tanda Hipoglikemia

Hipoglikemia atau rendahnya kadar gula dalam darah adalah satu ciri-ciri bayi yang menderita penyakit penyumbatan empedu. Gejala umum yang biasa menyertai hipoglikemia adalah kesulitan berbicara walaupun kejang menjadi penanda utama pada bayi yang terkena hipoglikemia. Selain akibat penyumbatan empedu, hipoglikemia juga dapat disebabkan oleh kurangnya hormon pembentuk glikogen atau gula otot pada bayi serta diabetes pada ibu yang melahirkan. 

Sponsors Link

8. Menunjukkan Tanda-Tanda Hipotonia

Hipotonia adalah sejenis gangguan saraf motorik pada bayi dimana bayi tidak dapat menggerakkan tangan atau kakinya dengan benar atau mengalami kaku.Hipotonia juga menyebabkan bayi tidak mampu menggerakkan mulut atau rahangnya dengan benar sehingga tidak mampu menerima asupan ASI dengan maksimal.

Bagian tungkai pada bayi yang mengalami pelemahan akibat hipotonia biasanya terdapat di bagian urat tendon dalam atau biasa disebut DTR (Deep Tendon Reflex). Selain itu bayi hipotonia juga memiliki tangisan yang lebih pelan dibandingkan dengan bayi normal.

9. Tumbuh kembang tidak normal

Penyumbatan empedu mengakibatkan bayi tidak bisa menerima asupan dengan benar karena empedu tidak mampu mengeksresi nutrisi seperti lemak dan vitamin yang masuk dengan baik. Akibatnya bayi akan mengalami diskrepansi atau tumbuh kembang yang tidak normal berupa ketidakmampuan untuk mencapai berat ideal.

Selain karena ketidakmampuan untuk menyerap nutrisi, bayi juga mengeluarkan muatan energi yang lebih banyak untuk memacu organ berjalan normal sehingga sulit untuk mencapai berat ideal pada bayi. Penanganan yang tidak maksimal dapat memicu anoreksia pada bayi.

Kolestastis memiliki banyak korelasi dengan penyakit pada organ hati terutama bagi bayi seperti Atresia Bilier. Dengan mengetahui ciri-ciri pada bayi diharapkan akan membantu penanganan yang lebih akurat.

, , ,